Sebuah Resensi : (Soe Hok Gie).. sekali lagi. Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya.


Buku, pesta dan cinta mungkin merupakan hal yang berada tidak jauh dari sekitar kehidupan mahasiswa. Bagaimana pula kah hal tersebut tergambar di alam bangsanya dari sudut pandang seorang Soe Hok Gie, seorang mahasiswa aktivis kampus dan pandangan politiknya pada era tahun 60-an?.

Membaca buku bersampul merah putih pada cover depannya dan cover kuning pada sampul belakangnya ini, mungkin mengingatkan kita pada buku Catatan Seorang Demonstran, judul buku yang juga banyak disinggung dalam buku “Soe Hok Gie sekali lagi” ini, dan jujur saja buku catatan seorang demonstran itu belum pernah saya baca, namun karakter Soe Hok Gie cukup memikat saya dan pastinya para pembaca dan pengagum fanatiknya terhadap tulisan, puisi dan catatan harian sosok ini, apalagi setelah di film kan oleh Riri Riza dan Mira Lesmana dalam film “GIE”. Seorang yang idealis dalam mencatat perasaan, penulis yang punya kedisiplinan dalam memandang sudut pandang sejarah bangsanya dalam pergulatan pemikiran pribadinya. Disamping itu, kekagumannya dan cintanya pada alam dan ilmu pengetahuan mampu membuka sebuah pandangan terbuka pada kita tentang sebuah masa yang selama ini kita kenal lewat sejarah versi pemerintah, namun sentuhan Gie dalam masa mudanya yang penuh tenaga menggairahkan tanpa pamrih dan takut menyelami relung kehidupan bangsanya yang penuh luka pada masa itu.

Buku setebal 500-an halaman ini, terbagi dalam 5 bagian, diawali dengan kisah tragis kematian Gie  di gunung semeru, yang diceritakan oleh Rudi Badil. Di bagian ini banyak bercerita tentang pendakian Gie dan teman-temannya di semeru sampai dengan proses evakuasi jenazah Gie dan Idhan Lubis (mahasiswa dari Tarumanegara yang ikut dalam pendakian ke semeru dan juga meninggal di puncak semeru bersama Gie). Pada bagian kedua bercerita tentang Gie dan dan rasa kecintaannya terhadap alam, kisah Gie dan Semeru sampai dengan ulasan soal pendakian Gunung Pangrango untuk mengantar sisa abu jenazah Hok-Gie dan melayat ke pemakaman  Idhan Lubis di TPU kampung kandang.

Pada bagian ketiga dari buku ini diceritakan tentang Saksi-Saksi dari Rawamangun-Salemba, mengenai sepak terjang Gie di kampus FS-UI, sebagai seorang aktivis kampus dan sikap politiknya terhadap bangsanya, menjadi “pak dosen” pada tahun 1969, bahkan sampai tentang kehidupan pribadi Gie dan percintaannya, dan dalam bagian ini diceritakan juga oleh saksi-saksi Rawamangun bahwa kehidupan Gie dan seputar “cewek-cewek sastra” yang kayaknya amat moralis dan kebanyakan ini-itunya. Mungkin juga pada masa itu, buku harian Gie belum banyak beredar sehingga tidak ada “sepotong” orang pun yang tahu kisah kasihnya. Suatu cerita tentang data dan dokumentasi kejadian 40-an tahun lalu, disamping juga sebagai dokumentasi tentang indahnya, hangatnya dan lekatnya hubungan pertemanan dengan seorang yang bernama Soe Hok Gie di mata teman-temannya, saksi dari Rawamangun-Salemba.. Ya, Soe Hok Gie sekali lagi….

Tulisan dari “The Angry Young Men”, judul dari bagian keempat dari buku ini amat pas menurut saya untuk menggambarkan isi pada bagian ini. Berisi tentang tulisan dari orang-orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan Gie dan bahkan lahir, hidup dan besar bukan pada zamannya Gie, namun mengagumi sosok Gie dari tulisan-tulisan, artikel dan catatan-catatan Soe Hok Gie. Dari Riri Riza, sutradara film “GIE”, Nicholas Saputra sampai Mira Lesmana, Hilmar Farid, Stanley Adi Prasetyo, Jopie Lasut serta Ben Anderson menuangkan tulisan mereka pada bagian ini, yang umumnya mereka mengaku semangat Gie dan kisah hidupnya dapat menjadi inspirasi mereka dalam bertindak dan mengambil peran dalam masyarakat. “Jangan memancing perasaan anak-anak muda itu. Mereka itu angkatan the angry young men, bukan crossboys lagi, bukan hippies juga.” Kurang lebih begitulah ucapan Gie, terutama ketika pemuda yang sering secara ekstrim disebut crossboys atau hippies dari flower generation menjadi pendemo angkatan 66.         
Dan, buku ini akhirnya berakhir pada bagian kelima yang berisi Karangan dari Kamar Suram Bernyamuk. Berisi tentang tulisan-tulisan dan artikel-artikel pilihan dari Soe Hok Gie yang pernah diterbitkan. Dari kamar yang bersinar lampu suram itulah (karena pada tahun 1960-an itulah voltase listrik Jakarta pada malam hari selalu rendah), Hok Gie membuat artikel-artikel dan tulisan serta catatan pribadinya yang amat berpengaruh. Meskipun dengan penerangan yang remang-remang dan banyak nyamuk, namun dari kamar itulah suara hentakan mesin ketik dan rautan tulisan tangan Gie melahirkan berbagai tulisan yang amat berpengaruh dan menginspirasi bahkan hingga kini.

Soe Hok Gie mungkin bisa menjadi bahan inspirasi dan pengaruh pada kita, sebagai seorang mahasiswa aktivis kampus, dia bukan saja loyal terhadap kritikan terhadap isu-isu yang berkembang terhadap bangsanya, bahkan hal seputar kampusnya dan dosen-dosennya juga tak luput dari tulisan dan kritikannya semuanya demi perbaikan ke arah yang lebih baik. Sebagaimana dalam tulisannya yang berjudul “Kenang-Kenangan Bekas Mahasiswa: Dosen-dosen juga perlu dikontrol”, mungkin bisa menjadi tamparan sekaligus “cambuk” bagi mahasiswa sekarang bahwa hendaknya membenahi dululah hal-hal sekitar kampus bahkan diri sendiri sebagai mahasiswa sebelum melontarkan atau mengkritik suatu isu-isu nasional yang lebih besar, demonstrasi yang cerdas yang dimulai dari diri sendiri, sekitar kampus untuk menghasilkan perubahan yang labih baik, bukan demonstrasi tanpa arah dan tidak tahu tujuan apalagi sampai berbuat kerusuhan.

Kecintaannya terhadap alam, sikap idealis nya yang tinggi tercermin dari perkataannya “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan” mungkin jarang kita dapatkan sekarang. Kesederhaannya mungkin amat langka didapatkan lagi sekarang ini, alasannya lebih memilih Fakultas Sastra, yang kurang populer dimasa itu dibandingkan Fakultas Kedokteran atau Ekonomi pada masa itu yang lebih menjanjikan dari segi materi kalau sudah lulus. Apa yang kau cari Soe Hok Gie?.. mungkin karena ucapannya “siapapun tak mengenal sejarah, akan mengulangi kesalahan yang dibuat generasi pendahulunya”. Terhadap alam dan lingkungannya, mungkin bisa dilihat juga terhadap kecerdasannya dalam hal ini, beberapa kali memimpin pendakian gunung serta menjadi salah satu pendiri Mapala UI, hingga akhir hidup nya berakhir di puncak Semeru pada usia yang masih muda. Gie pernah berkata :“Seorang Filsuf Yunani pernah menulis.. nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” Hmmm, namun bukankah lebih baik kalau umur tua namun mempunyai amal dan bisa memberikan kebaikan yang lebih banyak. Ya, andai Soe Hok Gie masih ada..
===============================
Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba
Pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan
Di lembah kasih, lembah mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau
Dekaplah lebih mesra, lebih dekat

(lampu lampu berkelipan di Jakarta yang sepi
Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
Kau dan aku berbicara
Tanpa kata, tanpa suara
Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)

Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
Dalam bahasa yang tidak kita mengerti
Seperti kabut pagi itu)

Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru

Selasa, 01 April 1969
-          Soe Hok Gie -

Kayaknya kita harus belajar pada Patrick dan Spongebob


Spongebob : What are you normally do when I'm gone?
Patrick : Wait for you to get back.
(Spongebob : Apa yang biasanya kamu lakukan saat aku pergi?
Patrick : menunggu kamu kembali).

Saya lupa di episode keberapa kata-kata Spongebob itu di ucapkan pada patrick, namun hal itu cukup mengingatkan saya pada kondisi bangsa kita akhir-akhir ini. Bangsa yang boleh dikatakan sebagai bangsa yang besar, kita sudah sebagai masyarakat dunia bahkan menjadi salah satu dari 20 besar kekuatan ekonomi dunia, namun kenapa begitu mudahnya konflik komunal terjadi, tindak kekerasan, kerusuhan, terorisme yang rata-rata temanya sama, SARA dan ujung-ujungnya arahnya mau mendeskriditkan pemerintah.

Mengapa kita tiba-tiba bisa berubah menjadi bangsa yang mudah marah?, dari kampanye “ganyang Malaysia” pasca kasus nelayan Malaysia dan petugas DKP; konflik terbuka jemaat HKBP dan umat Islam di bekasi terkait pembangunan Gereja; kerusuhan Tarakan antara 2 suku yang asli dan pendatang dan terakhir perang antar gang preman di kasus Blowfish di depan Pengadilan Jaksel yang ternyata melibatkan 2 suku berbeda pula, rata-rata ada korban jiwa dan kerugian harta benda. Belum lagi kasus terorisme yang membawa-bawa nama agama, sampai peledakan bom bahkan perampokan bank (mana ada agama yang mengajarkan umatnya berbuat kerusuhan dan perampokan?), yang seolah-olah belum ada habisnya.

Kita memang sudah menjadi bangsa yang mudah marah dan ketika kita sudah marah kita menjadi gelap mata untuk melakukan tindak kekerasan yang tidak pernah kita bayangkan. Cerita ini yang seharusnya hanya terjadi pada masyarakat yang terbelakang peradabannya, dimana konflik komunal hanya terjadi bagi mereka yang belum mengenal yang namanya peradaban. Dan kita tentunya bukan merupakan kelompok yang terbelakang itu, kita sudah menjadi bangsa yang besar, bangsa yang sudah mengenal peradaban dan konflik komunal yang merenggut nyawa banyak orang tentunya menjadi aib yang besar bagi bangsa kita.

Lho, lantas kenapa kita harus belajar pada si Patrick dan Spongebob?. Saya ingat kata-kata Patrick pada Spongebob, “pengetahuan tidak dapat menggantikan persahabatan. Aku (Patrick) lebih suka jadi idiot daripada kehilanganmu (Spongebob)”. Hmm, patrick yang idiot saja bisa lebih mengenal apa itu arti persahabatan lantas kenapa kita yang sudah mengaku sebagai bangsa yang besar dan bangsa yang lebih mengenal arti peradaban, namun belum mengerti apa itu makna perbedaan dan belum mengerti bagaimana merangkai perbedaan itu dalam suatu makna persahabatan.

Tentunya hal tersebut tidak bisa kita biarkan, tentunya yang lebih penting adalah mencari akar persoalannya untuk mendapatkan obat mujarab untuk mengobati penyakit sosial yang menakutkan ini. Disamping itu, kita perlu mengantisipasi kemungkinan semakin terbatasnya ruang ekonomi di tengah masyarakat, hal inilah yang mudah menimbulkan konflik dan sebagai tugas pemerintahlah untuk membela kepentingan masyarakat, menjamin setiap masyarakat untuk mempunyai akses terhadap sumber ekonomi menghindari adanya penumpukan sumber ekonomi karena kecemburuan ekonomi lah yang bisa menjadi pintu masuk adanya benturan ditengah masyarakat.

Memang agak berat, friend untuk mewujudkan itu semua namun sekali lagi kita memang harus merenung dan belajar pada si idiot Patrick dan Spongebob (walaupun kita mengaku sudah sebagai bangsa yang terpelajar), dan saya temukan lagi adegan di film Spongebob ini yang bikin saya terharu, waktu spongebob mendadak kaya gara2 menemukan mutiara, trus melupakan si patrick, cuekin patrick n cari temen-teman baru, saat duitnya habis, temen2 barunya pada ninggalin dia, trus dia baru sadar sahabat lamanya, patrick. sambil nangis dia mohon sama si patrick, "kalo uang bisa membuatku melupakan sahabat terbaikku, maka aku memilih tidak punya uang sama sekali"
buseeettttt dah, terharu sy.. 

Sebuah Renungan dari Anjangsana Ke Panti Asuhan


Jalanan masih basah selepas hujan menyirami bumi disore hari ini, ketika Kami berencana untuk melakukan kunjungan ke Panti-panti Asuhan pada Ramadhan kali ini. Bulan Puasa ini memang sudah menjadi bagian dari agenda kami untuk bisa beranjangsana ke Panti-Panti Asuhan, sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya tahun ini kami juga berkunjung ke Panti-panti Asuhan untuk memberikan sedikit bantuan kepada adik-adik di Panti-Panti Asuhan tersebut.

Panti Asuhan Al-Khaerat menjadi tujuan awal kami untuk menyalurkan bantuan yang sudah terkumpul dari kegiatan Baksos ini. Raut wajah yang ceria dari adik-adik di Panti Asuhan tersebut terlihat jelas menyambut kami ketika kami baru memasuki halaman Panti Asuhan tersebut. Keceriaan yang cukup membuat saya terharu ketika mereka berkumpul lengkap dengan seragam gamis hijau yang bersih dan indah untuk dipandang, ternyata pada hari itu juga mereka sedang bersiap-siap untuk memenuhi undangan berbuka puasa bersama dari salah seorang tokoh masyarakat di kota ini.. (he..he,kami sedikit “ge-er” tentang penyambutan lengkap berseragam itu, kami kira itu semua dipersiapkan untuk menyambut kami,gubrak..!!!). Memang kalau kita lihat, setiap Ramadhan begitu banyak orang-orang yang mampu dari segi finansial mengundang anak-anak Panti Asuhan untuk berbuka puasa dan memberikan bantuan, belum lagi kalo kita bicara pada musim pemilu atau pilkada yang begitu banyaknya calon-calon kandidat sebelum pemilu dan pilkada beramai-ramai memberikan bantuan, karena mungkin mereka berpikir dengan sumbangan tersebut maka suara akan mengalir kepada mereka, Wallahu ‘Alam. Namun, terlepas dari itu semua Niat dan keikhlasan kita lah yang lebih utama dari itu semua. Bukankah kebaikan yg kita niatkan dan laksanakan dengan penuh keikhlasan akan kembali juga kepada kita dalam bentuk balasan dan kebaikan dari-Nya yang berlipat-lipat jumlahnya. Wallahu ‘Alam.

Selepas kami berkunjung ke Panti Asuhan Al-Khaerat, tujuan kami selanjutnya menuju ke Panti Asuhan Muhsyahwir, lokasinya yang cukup jauh dari Panti Asuhan yang pertama kami kunjungi sedikit membuat kami kesulitan melewati gang-gang sempit disekitar deretan perumahan-perumahan untuk tiba di lokasi yang kami tuju. Rasa lelah kami untuk sampai ke Panti Asuhan tersebut nampaknya tidak terasa ketika melihat keceriaan raut wajah dari adik-adik Panti Asuhan tersebut dalam menyambut kami, apalagi salah seorang teman berbisik pada saya “Subhanallah, anak panti nya disini yang remaja putrinya cantik-cantik juga ya, prekitieww..”. ha..ha.. sy cuma senyum-senyum sj mendengarnya.

Melihat lokasi Pantinya yang agak menjorok masuk ke dalam gang kecil, saya cukup terharu juga melihat kondisi bangunan Panti tersebut, kalo kita lihat bangunan pantinya adalah sebuah rumah panggung berdinding kayu dengan lantai semen yang luasnya cuma beberapa meter persegi mampu menampung sekitar 40-an anak-anak Panti, cukup mengiris hati ini apakah mereka tidak saling berdesak-desakan dengan kondisi ruangan Panti yang amat sempit ini. Saya sempat merenung, bahwa begitu kurang bersyukurnya diri ini yang sudah diberikan tempat tinggal yang layak dan tidur diatas ranjang tanpa perlu berdesak-desakan bila dibandingkan dengan kondisi adik-adik di panti tersebut, sebuah refleksi nyata yang seharusnya bisa menampar kita bahwa kita memang masih kurang banyak bersyukur kepada-Nya bahkan kadang kita masih merasa kurang dari semua fasilitas dan rahmat serta kasih sayang-Nya yang telah diberikan kepada kita.

Akhirnya, kegiatan Baksos kami sore ini berakhir dengan mengunjungi Panti Asuhan Fatahillah. Sama seperti kedua panti asuhan yg telah kami kunjungi, raut wajah keceriaan tetap menyambut kedatangan kami dan cukup menghangatkan diri ini. Di Panti Asuhan ini juga kami mengakhiri kegiatan Baksos kami pada Ramadhan tahun ini untuk berbagi dengan adik-adik di Panti Asuhan, kamipun pamit pada pengurus panti dan adik-adik di Panti asuhan tersebut mengingat Adzan maghrib yang sebentar lagi akan berkumandang menandakan tanda berbuka puasa.  

Namun, ada suatu hal yang cukup membuat sy bangga dan senang terhadap anak-anak di ketiga Panti Asuhan yang kami kunjungi ini,dari cerita yang saya dengar dari pengurus panti ternyata anak-anak Panti Asuhan ini masih tetap bersekolah dan masih tetap semangat dalam mengejar mimpi dan cita-cita mereka, hal yang seharusnya tak lepas dari pengawalan Pemerintah dan Kita untuk menjaga mereka untuk menggapai impiannya, bukankah di UUD negara kita juga menjamin bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh negara.

Suatu hal yang mungkin dapat menjadi pelajaran dan renungan bagi kita adalah bahwa bantuan yang mereka terima dan undangan berbuka puasa bersama yang mereka rasakan di Ramadhan ini, jauh direlung hati mereka bukannya melihat seberapa besarnya sumbangan itu atau seberapa nikmatnya sajian menu buka puasa itu namun bagi mereka lebih disayangi dan diperhatikan di bulan Ramadhan ini. Anak-anak Panti Asuhan tersebut tidak melihat dari besarnya bantuan dan santunan yang kita berikan namun mereka melihatnya sebagai wujud kasih sayang, dan mereka haus akan hal itu. Rasa kasih sayang itulah yang mereka rindukan selama ini dari kita, sebagaimana rasa kasih sayang orang tua kita terhadap kita yang jarang mereka dapatkan… (Phali).
==================================
“tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
orang-orang yang berbuat riya,
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Q.S. Al-Maa'uun: 1-7)
semoga kita tidak termasuk diantaranya...

Sebuah Resensi, Dwilogi : Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas


Ayah, pulanglah saja sendirian Tinggalkan aku Tinggalkan aku di Padang Bulan Biarkan aku kasmaran (penggalan puisi Ikal ketika bertemu A Ling lagi).
“Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku”. Meski tak terkatakan , anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.

Membaca Novel Dwilogi Andrea yang terbaru : Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas kembali mengingatkan saya pada Tetralogi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Masih tentang kualitas bercerita Andrea yang sudah menjadi jaminan dalam Novel tersebut, dari mozaik-mozaik yang saya baca terkadang membuat saya merinding, sedikit membuat mata ini berkaca-kaca dan terkadang juga dengan gaya bahasa Andrea yang jenaka dan sedikit “nakal” yang semuanya itu terbungkus dalam suasana Belitong dengan pemaparan Melayu yang panjang meski kadang terkesan berlebihan.

Adalah Enong, pusat cerita dari Novel ini. Diawal cerita pada novel pertama pembaca langsung dihadapkan pada situasi yang dramatis, tragedi yang sangat memilukan. Dimana Enong yang sedang bahagianya menerima hadiah dari Ayahnya, sebuah Kamus Satu Milyar Kata. Hadiah dari ayah miskin dan sederhana, hasil menabung dari kerja serabutan. Ayah bijaksana itu sangat mendukung anaknya untuk menjadi seorang guru Bahasa Inggris. Ayah yang penyayang itu akan memberikan kejutan untuk istrinya berupa hadiah sepeda terbaru dan mengajak keluarganya ke pasar malam. Namun, Ayah yang sangat bertanggung jawab itu mengalami nasib tragis yaitu meninggal karena kecelakaan saat bekerja, tertimbun lumpur.

Jadilah Enong. Seorang gadis kecil yang masih kelas enam SD. Tiba-tiba, secara otomatis, karena dia adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Harus memikul beban sbg kepala keluarga. Disinilah tragedi dan peristiwa demi peristiwapun terjadi. 

Syalimah – Ibu dari anak-anak yatim itu – harus merelakan anak pertamanya – Enong, yang masih kelas 6 SD, yg belum dapat ijazah SD, yg masih semangat sekolah, yang mencintai pelajaran bahasa Inggris, pergi ke kota tanjong pandan untuk mencari pekerjaan. Gadis kecil yang kurus itu harus berjuang demi keluarganya, demi ibu dan adik-adiknya. Subuh buta Enong pun pergi ke Tanjong Pandan, diantar ibu dan adik-adiknya, numpang ke sebuah truk angkutan barang. Di kota, Enong berkeliling mencari-cari pekerjaan, dipikirannya hanyalah bagaimana bisa mendapatkan uang untuk membantu keluarganya hidup.

Dikota, Enong harus bersaing dengan orang-orang dewasa, jelas saja dia kalah; tak ada yang mau menerima dia kerja. Enong balik ke kampung, dia ambil pacul dan peralatan tambang Ayahnya di rumah, dia pergi mencari timah. Ya,pekerjaan paling kasar di dunia ini pun dilakoni Enong, sekali lagi, demi hidup keluarganya, demi mimpi-mimpinya.

Selanjutnya kisah enong mengalir penuh drama. Dilain sisi, novel ini pun bercerita kisah legendaris percintaan Ikal dan A Ling. Cinta remaja yang unik, lucu, dilematis, penuh kejutan dan dibumbui dengan sedikit aroma-aroma kecemburuan. Andrea sekali lagi berhasil meninggalkan kesan mendalam dalam novel ini. Ciri khasnya tetap sama, drama dan tragedi bercampur kelucuan-kelucuan, budaya melayu yang kental  menjadi ruh dalam dwilogi ini.

Sebagai kelanjutan kisah Enong di Novel Padang Bulan, pada Novel kedua Cinta di Dalam Gelas menceritakan perjalanan nasib Enong. Menceritakan bagaimana ia berurusan dengan preman pasar pagi, seorang lelaki yang bercita-cita menjadi teknisi antena parabola, dan seorang Grand Master perempuan tingkat dunia yang berasal dari Georgia, menampilkan kisah catur dan kebiasaan unik orang Melayu kampung, bahkan Andrea jg bertutur tentang jenis manusia berdasarkan cara minum kopi, sebagai refleksi dari keseringannya orang-orang Melayu Kampung nongkrong di warung kopi sambil bermain catur, bahkan bagaimana kapten CHIP dan dua ekor Merpati pun tersangkut dalam urusan ini. Namun terlepas dari itu semua,novel ini sesungguhnya menyuguhkan sebuah riset sosial dan kultural serta watak manusia terhadap lingkungannya yang panjang dari Andrea Hirata. Riset yang menggambarkan bukan cuma tentang catur (meskipun sy terkadang jenuh jg membaca tentang paparan yg panjang dari catur dengan rumus-rumus yg tidak sy kenali yg disuguhkan Andrea dalam Novel ini), melainkan tentang bagaimana seorang perempuan menegakkan martabatnya dengan cara yang sangat elegan, tentang perspektif politik kaum marginal, dan tentang falsafah pendidikan yang dianut perempuan itu.

“Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar,” kata perempuan yang bahkan tidak tamat SD itu. Namun, melalui perempuan itu Andrea berhasil menyimpulkan bahwa belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan. Ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut. Enong jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangun lagi. Kisah Enong ini bukan hanya kisah tentang keluarga yang sederhana, namun tentang impian seorang anak kecil, tentang keberanian menjalani hidup.

Novel ini juga mungkin bisa sebagai jawaban terhadap pertanyaan tentang Maryamah Karpov atas Novel tetralogi Andrea yang terdahulu. Kegigihan dan semangat hidup Enong-lah (Maryamah binti Zamzami) yang menjadi ruh dan semangat yg inspiratif dari Novel ini, yang terapresiasi pula pada cara bermain caturnya dalam semangatnya menguasai teknik pertahanan benteng bersusun ala Grand Master Anatoly Karpov, sebagaimana pula cara dia untuk tetap bertahan dan tidak menyerah pada kesulitan hidup yang dia alami. Hingga, di akhir pidatonya ketika dia terpilih sebagai salah satu lulusan terbaik dalam Wisuda Kursus Bahasa Inggris dia berkata dengan lantangnya, “Sacrifice, honesty, freedom”.

Duuuttt… Truttttt… Pruuuttttttt..!!!!!!!

Alkisah, suatu ketika Si Kepala begitu sombongnya memamerkan kehebatannya kepada anggota tubuh yang lain. “Coba kalian lihat saya, begitu berartinya keberadaan saya di tubuh ini. Semua panca indra berada pada saya. Seandainya tidak ada saya, tubuh ini tidak akan ada artinya”,kata Si Kepala dengan sombongnya. “Bukankah saya yang menjadi pengendali dari tubuh ini. Saya lah yang berperan terhadap tindakan apa yang harus dilakukan oleh anggota tubuh yang lainnya”, kata Si Kepala yang tiada henti-hentinya menyombongkan dirinya. “Tapi bukankah saya juga memiliki peran yang cukup penting ditubuh ini?”, tanya Si Tangan yang juga tidak mau kalah dengan Si Kepala. “Sayalah yang menjadi penggerak terhadap aktivitas tubuh ini, kalau tubuh ini memerlukan sesuatu sayalah yang pertama kali bergerak untuk memenuhi kebutuhan tubuh ini”, kata Si Tangan. “Tapi kamu juga tidak dapat bergerak tanpa perintah dari Saya. Kalau sudah begitu berarti sayalah yang paling berkuasa di tubuh ini, hahaha…”, kata Si Kepala dengan sombongnya yang akhirnya membuat Si Tangan tak bisa berkata banyak.
Mendengar perseturuan itu Si Anus ikut angkat bicara juga, “Tapi, saya juga memiliki peran yang cukup vital di tubuh ini, seandainya saya tidak ada maka proses pencernaan di tubuh ini tidak akan berjalan baik”, kata Si Anus. “Hey, Anus. Buat apa kamu ikut-ikutan juga, sudah jelas posisi kamu yang paling belakang, tempat keluarnya kotoran lagi. Belum lagi posisimu paling tertutup, apalagi kalau melihat rupamu orang-orang pasti akan muak dan mau muntah, wahahaha.. jadi kamu tidak usah sok mengaku paling hebat di tubuh ini”, kata Si Kepala. Mendengar sanggahan dari Si Kepala tersebut, membuat si Anus jengkel dan marah. “Baiklah kalau begitu, mulai sekarang aku mogok dari segala aktivitas yang saya lakukan di tubuh ini’, kata si Anus dengan jengkelnya sembari meninggalkan si Kepala.
Suatu ketika Tubuh mengalami kelainan akibat tidak berfungsinya fungsi Anus. Ketika zat-zat yang ada didalam tubuh perlu dikeluarkan, hal itu tidak bisa dilakukan akibatnya proses pencernaan di dalam tubuh mengalami gangguan. Melihat kondisi tersebut Si Kepala tak bisa berbuat banyak, apalagi sang Tangan yang hanya menunggu perintah Si Kepala untuk melakukan sesuatu. Si Kepala tidak bisa melakukan sesuatu, namun kalau hal tersebut dibiarkan maka akan merusak kondisi tubuh sendiri yang akhirnya juga dapat menggangu Si Kepala. Si Kepala yang dalam keadaan bingung tersebut tak bisa berbuat banyak yang akhirnya mau mengakui ternyata bukan cuma dialah yang terhebat di dalam tubuh ini, namun bahkan si Anus sendiri juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam tubuh.
Kadangkala sesuatu yang keluar dari Anus dianggap sesuatu hal yang sepele, padahal kalau salah satu fungsi tubuh tersebut tidak jalan maka proses pencernaan dalam tubuh akan terganggu. (Maaf) kentut misalnya atau bahasa kerennya flatus (biar kedengaran keren, hehehe…) merupakan proses pengeluaran gas yang terperangkap dari dalam tubuh, terutama dari usus yang keluar melalui anus. Gas ini mengandung berbagai unsur yaitu nitrogen (20-90%), hydrogen(0-50%), karbondioksida (10-30%), metana (0-10%), oksigen (0-10%). (Maaf) kentut itu menandakan peristaltik atau kontraksi usus berfungsi dengan baik. Jadi bisa dikatakan juga sebagai karunia kesehatan yang diberikan Tuhan yang tidak ternilai asal frekuensinya masih normal, namun bisa menjadi petaka kalau ia keluar di waktu dan tempat yang salah apalagi kalau berbau dan berbunyi di hadapan banyak orang, wahahaha…
Bau busuk dari (maaf) kentut biasanya terbentuk dari unsur hydrogen sulfida dan gas lain yang mengandung sulfur didalam perut. Hydrogen merupakan hasil produksi metabolisme karbohidrat dan protein endogen oleh bakteri. Itu sebabnya telur (apalagi telur busuk..hi..hi), daging, dan kembang kol (yang banyak mengandung sulfur) punya peran besar dalam memproduksi bau busuk. Sedangkan kenapa koq menimbulkan bunyi? Kemungkinan karena adanya vibrasi lubang anus saat kentut diproduksi. Kerasnya bunyi tergantung pada kecepatan gas (dan diameter lubang anus..hi..hi..) == > ngaco..!!.
Moral of the Story nya Sebenarnya bukan pada (maaf) kentut nya. Tapi, kadangkala kita menganggap remeh suatu hal yang kecil, menganggap diri paling hebat sedangkan orang lain yang mempunyai kemampuan terbatas kita anggap tidak ada artinya, padahal bukankah dia juga merupakan bagian dari rangkaian suatu sistem yang kalau tanpa dia maka suatu sistem tersebut tidak dapat berjalan. Bukankah suatu garis yang lurus dan panjang terdiri dari titik-titik kecil yang bergabung menjadi suatu garis. Kita tinggal melihat diri kita sendiri apakah kita selama ini menganggap diri ini seperti si Kepala yang menganggap dialah yang paling hebat dan menganggap si Anus tidak ada artinya padahal sehari saja si Anus tidak bekerja maka Si Kepala sudah pusing. Ataukah kita si Anus itu yang meskipun merupakan bagian yang dianggap “kecil” dari suatu sistem tapi tetap mempunyai peranan yang besar dari suatu kelompok atau organisasi.
(Phali)